Latar belakang

PT. Frisian Flag Indonesia merupakan salah satu perusahaan industri susu di Indonesia. Laporan riset AC Nielsen Indonesia menunjukkan bahwa PT. Frisian Flag Indonesia memegang pangsa pasar terbesar kedua setelah PT. Nestle untuk kategori susu bubuk (powder), sedangkan untuk kategori susu kental manis dalam kaleng dan saset PT. Frisian Flag Indonesia memegang pangsa pasar .terbesar pertama, sedangkan untuk susu cair (liquid) pangsa pasar dikuasai oleh susu Ultra Milk. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh PT. Frisian Flag Indonesia untuk mengantisipasi persaingan, dalam rangka menciptakan, meningkatkan dan mempertahankan loyalitas pelanggannya, antara lain adalahpemberian bantuan pinjaman modal, bantuan fasilitas usaha, kemudahan penundaan pembayaran hasil penjualan, pemberian diskon khusus, pemberian hadiah, customer gathering, dan kerjasama even promosi (PT. Frisian Flag Indonesia, 2005).Kenyataan menunjukkan bahwa PT. Frisian Flag Indonesia Bandung telah mengalami penurunan target penjualan dari tahun 2000 s.d. 2005, serta berkurangnya jumlah pelanggan pada akhir tahun 2005. Sementara itu program Customer Relationship Management telah dilakukan, bahwa selalu dievaluasi dari waktu ke waktu. Penurunan pencapaian target penjualan dan berkurangnya jumlah pelanggan di wilayah Bandung dan Cimahi, mengindikasikan belum optimalnya program perusahaan dalam membentuk Customer Relationship Management(CRM). Terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan turunnya target penjualan; pertama kemungkinan Customer Relationship Management yang dilakukan oleh perusahaan belum optimal, kedua meningkatnya produk pesaing sehingga menyebabkan beralihnya beberapa konsumen bahkan sekaligus pelanggan Untuk menanggulangi kondisi persaingan dan mengembalikan para pelanggan bisnisnya, PT. Frisian Flag Indonesia terus mengupayakan berbagai usaha dengan membina hubungan yang semakin lebih baik dengan pelanggan. Kesetian pelanggan bisnis merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pada dasarnya kesetiaan adalah suatu proses yang berkelanjutan untuk pencapaian tujuan

PT FRISIAN FLAG

dfd siklus produksiTugas uas sia

tugas uas etika bisnis

Pengantar etika bisnis
Oleh keens berteens
Penerbit kanisius

nama kelompok
dewi hapsari 01109032
riski wahyu 01209064

BAB 9

Tanggung jawab sosial perusahaan

Perusahaan mempunyai tanggung jawab legal, karena sebagai badan hukum ia memiliki status legal. Karena perusahaan merupakan badan hukum perusahaan mempunyai banyak hak dan kewajiban legal yang dimiliki juga oleh manusia perorangan dewasa. Seperti menuntut di pengadilan, dituntut di pengadilan, mempunyai milik, mengadakan kontrak dan lain-lain. Supaya mempunyai tanggung jawab moral perusahaan perlu berstatus moral dengan kata lain merupakan perilaku moral. Perilaku moral (moral agent) bisa melakukan perbuatan etis dan tidak etis.

Menurut Milton Friedman tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat. Tanggung jawab moral perusahaan bisa dalam bentuk : tanggung jawab kepada dirinya sendiri, tanggung jawab kepada karyawan, kepada perusahaan lain, dll. Tanggung jawab ini ditentukan dalam tangan manager dengan pelaksanaan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat baik dari segi hukum dan kebiasaan etis. Tanggung jawab ekonmis dan tanggung jawab sosial perusahaan bisnis selalu memiliki dua tanggung jawab, yaitu ekonomi dan sosial dengan catatan hal ini berlaku untuk sektor swasta. Sedangkan dalam sektor BUMN / milik pemerintah tanggung jawab tersebut tidak dapat dipisahkan.

Sering terjadi sebuah perusahaan negara merugi bertahun-tahun tetapi kegiatannya dibiarkan berlangsung secara terus karena dengan alasan non ekonomis misalnya: perusahaan kereta api yang mengalami kerugian secara menyeluruh tetapi hal itu tidak menjadi alasan untuk menutup perusahaan pertimbangan lainnya adalah kepentingan umum sehingga jasa ini harus tersedia terus walaupun dari segi ekonomis tdidak menguntungkan. Jika perusahaan negara defisit maka pemerintah dapat mengambil keputusan untuk menutup defisit di kas negara. Berbeda dengan perusahaan swasta jika mengalami defisit untuk periode lama mau tidak mau perusahaan harus tutup sehingga lahan bersama kinerja ekonomisnya selalu baik.

Jika perusahaan berhasil memainkan perannya dengan dengan baik diatas panggung ekonomi nasional dengan sendirinya dia memberi kontribusi yang berarti kepada kemakmuran masyarakat. Kegiatan yang dilakukan perusahaan demi suatu tujuan sosial dengan tidak memperhitungkan untung / rugi ekonomis hal itu bisa terjadi dengan acara positif dan negatif. Secara positif perusahaan bisa melakukan kegiatan yang tidak membawa keuntungan ekonomis dan semata-mata dilakukan demi kesejahteraan masyarakat dengan melakukan kegiatan pelatihan ketrampilan untuk pengangguran tujuannya semata-mata sosial sama sekali tidak ada maksud ekonomis. Secara negatif perusahaan bisa menahan diri untuk untuk tidak melakukan kegiatan – kegiatan tertentu yang sebenarnya menguntungkan dari segi bisnis tetapi akan merugikan masyarakat misalnya pembuangan limbah pabrik dilakukan dengan membuang di sungai. Hal ini akan menguntungkan perusahaan karena dengan membuang ke sungai akan menekan pengeluaran dan meningkatkan laba namun disisi lain masyarakat banyak yang dirugikan dan ekosistemnya akan terganggu. Bisnis memikul tanggung jawab dalam arti negatif karena tidak boleh melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat. Ada beberapa alasan mengapa bisnis menyalurkan sebagian dari labanya kepada karya amal melalui yayasan independen. Alasannya adalah bahwa berkaitan dengan kenyataan bahwa perusahaan – perusahaan itu berstatus publik, kemudahan pajak dan pimpinan perusahaan tidak bisa ikut campur dalam urusan yayasan independen sehingga bantuan menjadi lebih tulus bukan demi perusahaan saja. Upaya meningkatkan citra perusahaan dengan mempraktekan karya amal dapat dengan CSP (corporate social performance) kinerja sosial perusahaan tidak saja mempunyai kinerja ekonomis tetapi juga kinerja sosial bagi perushaan masih ada hal lain yang perlu di perhatikan daripada memperoleh laba sebesar mungkin. Tidak kalah pentingnya mempunyai hubungan dengan masyarakat di sekitar pabrik dan dengan masyarakat umum. Untuk mencapai itu perlu kesdiaan perusahaan untuk menginvestasikan dana dalam program khusus. Upaya kinerja sosial perusahaan sebaiknya tidak dikategorikan sebagai pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Walaupun tidak secara langsung dikejar keuntungan namun kinerja sosial ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab ekonomis perusahaan. Sehingga bisnis bukan karya amal yang menentukan perbedaanya adalah pencarian keuntungan – keuntungan bisa dicari secara langsung atau melalui jalan putar yang panjang

BAB 10

BISNIS, LINGKUNGAN HIDUP, DAN ETIKA

Masalah sekitar lingkungan hidup baru mulai disadari pada tahun 1960-an. Sekaligus disadari pula bahwa masalah itu secara langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh bisnis modern, khususnya oleh cara berproduksi dalam industri yang berdasarkan ilmu dan teknologi maju

Cara berproduksi besar – besaran dalam industri modern dulu menggandakan begitu saja dalam dua hal yang sekarang diakui sebagai kekeliruan besar. Pertama bisnis modern menggadaikan bahwa komponen –komponen lingkungan seperti air dan udara merupakan barang umum sehingga boleh dipakai seenaknya

Kedua, diandaikan pula bahwa sumber daya alam seperti air dan udara itu tak terbatas. Tentu saja secara teoristis tidak pernah disangkal bahwa bahan – bahan alami itu akhirnya mempunyai batas juga, namun batas itu dianggap sangat jauh dan dalam praktek orang bertindak seakan – akan tidak ada batas sama sekali

Pada zaman sekarang masalah lingkungan hidup sudah mencapai suatu taraf global. Terutama ada enam problem yang dengan jelas menunjukan dimensi global itu, akumulasi bahan beracun, efek rumah kaca, perusakan lapisan ozon, hujan asam, deforestasi dan penggurunan, dan kematian bentuk – bentuk kehidupan.

Lingkungan hidup sebagai the commons

Sebelumnay sudah kita lihat bahwa bisnis modern menggadaikan begitu saja status lingkungan hidup sebagai ranah umum. Dianggapnya, disni tidak ada pemilik dan kepentingan pribadi. Menurut Hardin, masalah lingkungan hidup adalah masalah kependudukan dapat dibandingkan dengan proses the commons. Di sini tidak ada suatu solusi teknis, seperti dalam masalah the commons tidak ada jalan keluar teknis misalnya memakai rumput buatan supaya pupuk lebih banyak. Membiarak kebebasan semua orang justru menghancurkan semua orang

BAB 11

Etika Dalam Bisnis Internasional

Perdagangan merupakan sarana dalam mendekatkan negara – negara bahkan kebudayaan yang berlainan. Selain itu perdagangan merupakan faktor penting dalam pergaulan antara bangsa – bangsa. Gejala globalisasi ekonomi dapat berakibat positif maupun negatif. Desain pilihan globalisasi dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan kesetiakawanan, tetapi di lain pihak gejala yang sama dapat berakhir dalam suasana konfrontasi dan permusuhan karena pertentangan ekonomi peran dagang

– menyesuaikan diri
bisnis harus menyesuaikan dengan norma – norma yang berlaku ditempat itu. Norma – norma moral penting berlaku di seluruh dunia. Sedangkan norma non moral untuk perilaku manusia bisa berbeda di berbagai tempat. Penipuan di suatu tempat lebih banyak dipraktekan daripada di tempat lain contoh konkret adalah diskriminasi terhadap wanita khususnya di bidang penggajian .suatu perusahaan di negara A mempunyai usaha di negara B dimana terdapat kebiasaan untuk membayar gaji lebih rendah kepada wanita daripada priabagi prestasi kerja yang sama . di negara hal itu dilarang menurut hukum dari segi ekonomis bagi pimpinan perusahaan tersebut lebih menguntungkan mengikuti kebiasaan di negara B karena dapat membantu menekan
biaya produksi wanita-wanita tersebut tidak akan protes karena hal ynag sama di praktekkan di seluruh negara

– regorasi moral
regorasi moral adalah pandangan yang menyatakan bahwa perusahaan di luar negeri hanya boleh melakukan apa yang boleh dilakukan di negaranya sendiri dan justru tidak boleh menyesuaikan diri dengan norma yang etis berbeda di tempat lain dengan kata lain apa yang dianggap baik di negerinya sendiri tidak mungkin menjadi kurang baik di negara lain. Situasi setempat dapat mempengaruhi moral sehingga sikap konsisten dalam berperilaku moral harus dijaga, yang baik di suatu tempat tidak mungkin menjadi baik dan terpuji di tempat lain contoh konkrit adalah diskriminasi terhadap wanita khususnya di bidang penggajian .suatu peruisahaan dari negara A mempunyai pabrik di negara B dimana terdapat kebiasaan untuk membayar gaji lebih rendah kepada wanita dari pada pria bagi prestasi kerja yang sama .di negara A hal itu dilarang menurut hukum. Dari segi ekonomis bagi pimpinan perusahaan tentu lebih menguntungkan untuk mengikuti kebiasaan di negara B karena dapat membantu menekan biaya produksi, wanita-wanita tersebut tidak akan protes karena hal sama akan di praktekkan di seluruh negara B.

– imoralisme naif
dalam bisnis internasional kita perlu berpegang teguh pada norma etika jika suatu perusahaan terlalu etika ia berada dalam posisi yang merugikan karena daya saingnya akan terganggu sehingga perusahaan lain yang tak begitu scrupolis debgan etika maka akan menduduki posisi yang menguntungkan contoh : pemberian suap kepada pegawai pemerintah / karyawan perusahaan, hal ini sudah umum dilakukan bahkan kalo tidak dilakukan akan merugikan. Dalam etika jarang prinsip – prinsip moral bisa diterapkan dengan mutlak karena situasi konkret seringkali sangat kompleks

kasus : bisnis dengan afrika yang rasisitis
afrika selatan mempunyai sistem politik yang diskriminasi ras dan dibedakan dari minoritas kulit putih baik dari perumahan sampai pada fasilitas umum. Kebijakan apartheid di afrika selatan ini menimbulkan kesulitan moral yang besaruntuk perusahaan – perusahaan asing yang mengadakan bisnis di afrika selatan. Banyak perusahaan yang mengalami dilema yaitu dengan menghentikan bisnis dengan afrika selatan atau menyesuaiakan diri dengan suatu keadaan yang tidak etis karena didasarkan atas diskriminasi ras. Jika mengadakan bisnis dengan afrika selatan bisa menimbulkan kesan bahwa menyetujui dan mendukung rezim rasisitis di sisi lain memutuskan hubungan bisnis bisa membantu untuk memaksa pemerintah kulit putih untuk meninggalkan politik mereka yang tidak etis jika menghentikan bisnis bisa berakibat keadaan golongan kulit hitam justru bertambah parah atau bisnis diambil oleh perusahaan lain yang tidak begitu peduli dengan aspek – aspek etisnya

– masalah dumping dalam bisnis internasional
dumping adalah = menjual sebuah produk dalam kuantitas di suatu negara lain dengan harga di bawah harga pasar sehingga hal ini akan merugikan produsen dari produk tersebut
motif melakukan dumping :
– si penjual mempunyai persediaan terlalu besar sehingga ia memutuskan untuk menjual produk yang bersangkutan di bawah harga saja. Hal ini dilakukan daripada produknya tidak laku terjual
– berusaha untuk merebut monopoli dengan harga yang dibanting murah

praktek dumping produk tidak etis karena melanggar etika pasar bebas kompetisi yang fair merupakan suatu prinsip di etika pasar bebas

– aspek etis dari korporasi multi nasional ( transpasional)
perusahaan yang mempunyai investasi langsung dalam dua negara / lebih (KMN) mempunyai kekuatan ekonomi yang besar dan beroperasi dari pebagai tempat yang berbeda sehingga mempunyai mobilitas tinggi dan memicu masalah etis sendiri. KMN melakukan tindakan tidak etis apabila KMN tahu dan mau mengakibatkan kerugian bagi negara dimana dia beroperasi sehingga harus memberi ganti rugi. Contoh : kecelakaan di pabrik pestisida carbidodi bnopal , india 1984

– masalah korupsi pada taraf internasional
korupsi dapat menimbulkan kesuliatan moral besar bagi bisnis internasional karena di negara satu bisa saja dipraktekkan apa yang tidak mungkin di negara lain

praktek suap dianggap tidak bermoral karena

– praktek suap itu melanggar pasar
orang yang terjun dalam dunia bisnis yang didasarkan pada prinsip ekonomi pasar dengan sendirinya akan mengikat diri untuk berpegang pada aturan main orang yang menyimpang dari aturan akan main curang seperti permainan kartu

– orang yang tidak berhak menerima imbalan
orang yang bekerja mendapat imbalan.pejabat pemerintahan yang menerima suap seharusnya tidak pantas diberi imbalan .karena jika transaksi berlangsuing secara normal mereka tidak akan menerima apa-apa karena mereka mendapat uang dengan menyalahgunakan kekuasaan dengan merugikan rakyat.

– uang suap diberikan dalam keadaan kelangkaan
pembagian barang langka dengan menempuh praktik suap mengakibatkan barang itu diterima oleh orang yang tidak berhak menerimanya,sedangkan orang lain yang berhak tidak kebagian. Contohnya dalam kekurangan kertas penerbit mendapat persediaan kertas baru dengan memberikan suap dalam jangka waktu yg cepat.

-praktek suap mengundang untuk melakukan perbuatan tidak etis dan ilegal lainnya.uang suap tidak bisa dibukukan baik perusahaan yang memberi suap maupun orang / instansi yang menerimanya , karena tidak dicatat si penerima tidak bisa menggunakan uang tersebut secara legal untuk investasi baru dan si penerima tidak akan membayar pajak tenta g pend

Bab 12

Penutup: peranan etika dalam bisnis

Jika perusahaan ingin mencatat sukses dalam bisnis ditentukan dalam 3 hal:
1. produk yang baik
2. manajemen yang mulus
3. etika

selama perusahaan memiliki produk yang bermutu serta berguna untuk masyarakat dan disamping itu dikelola dengan manajemen Yang tepat di bidang produksi ,finans,finansial,sumberdaya manusia tetapi tidak mempunyai etika ,maka kekurangan ini cepat atau lambat akan menjadi batu sandungan bagi perusahaan .untuk memperoleh produk yang baik si pebisnis dapat memanfaatkan seluruh perangkat ilmu dan teknologi modern.guna mencapai manajemen yang mulus si pebisnis dapat memakai sepenuhnya ilmu ekonomi dan teori manajemen.

o Bisnis berlangsung dalam konteks moral
Bisnis merupakan suatu unsur penting dalam masyarakat, semua orang membeli barang atau jasa untuk bisa hidup atau setidak-tidaknya bisa hidup dengan lebih nyaman. Makin maju suatu masyarakat makin besar pula ketergantungan satu sama lain di bidang ekonomi
o Mitos mengenai bisnis ammoral
Dalam masyarakat beredar kabar bahwa bisnis tidak mempunyai hubungan dengan etika atau moralitas. Sebagaimana matahari yang memancarkan cahaya serta panas yang didalamnya tidak terdapat etika.moralitas menjadi urusan individu,tetapi kegiatan bisnis itu sendiri tidak berkaitan langsung dengan etika.moralitas tidak mempunyai relevansi bagi bisnis.
Bisnis itu sendiri adalah netral terhadap moralitas jadi merupakan suatu mitos atau dongeng saja.menurut de george, beliau menemukan tiga gejala dalam masyarakat yang menunjukkkan sirnany mitos tersebut.
1. dalam liputan media massa terdapat skandal di bidang bisnis,bisnis di soroti tajam oleh masyarakat,masyarakat tidak ragu untuk mengaitkan bisnis dengan moralitas.
2. bisnis diamati dan di kritik oleh banyak LSM apa yang disimak oleh mereka berkonotasi dengan etika
3. bisnis mulai prihatin dengan dimensi etis dalam kegiatannya hal ini tampak dalam konferensi seminar mengenai aspek etis dari bisnis

o mengapa bisnis harus berlaku etis
bisnis hanya merupakan suatu bidang khusus dari kondisi manusia yang umum secara lengkapnya sebagai berikut
1. tuhan adalah hakim kita
menurut agama sesudah kehidupan jasmani ini manusia hidup terus dalam dunia bakadimana tuhan sebagai hakim maha agung akan menghukum kejahatan yang pernah dilakukan dan mengganjar kebaikannya , diharapkan setiap pebisnis akan dibimbing oleh iman kepercayaannya untuk tetap berpegang pada motivasimoral ini.
2. kontrak sosial
setiap kegiatan yang dilakukan bersama –sama dalam masyarakat menuntut adanya norma-norma dan nilai –nilai moral yang kita sepakati bersama.hidup dalam masyarakat berarti mengikatkan diri untuk berpegang kepada norma-norma dan nilai-nilai tersebut.dasar moralitas umat manusia adalah berdasarkan kontrak sosial yang mana umat manusia diwajibkan untuk berpegang pada norma-norma moral,kontrak ini bersifat mengikat dan tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan dari kontrak ini.
3. keutamaan
manusia harus melakukan yang baik karena hal yang baik mempunyai nilai instrinsik .manusia yang berlaku etis adalah baik begitu saja ,baik secara menyeluruh bukan menurut aspek tertentu saja..orang bisnis harus mempunyai integritas ,jika mereka tidak mempunyai integritas mereka tidak pantas .contohnya pebisnis yang mengumpulkan kekayaan tanpa pertimbangan moral..seperti menipu dan merugikan orang lain mereka tidak mempunyai integritas.

Kode etik perusahaan
Adalah kode etik yang menyangkut kebijakan etis perusahaan berhubungan dengan kesulitan yang bisa timbul di masa lampau misalnya konflik kepentingan hubungan dengan pesaing dan pemasok

Manfaat kode etik perusahaan
1. kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan ,karena etika telah dijadikan sebagai coporate culture..dengan adanya kode etik secara internemua karyawan terikat dengan stan etis yang sama sehingga akan mengambil keputusan yang sama pula untuk kasus-kasus yang sejenis.misalnya mereka akan tolak dilibatkan dalam tindak korupsi, secara ekstern para stakeholder lain memaklumi apa yang bisa diharapkan dari perusahaan.
2. kode etik dapat membantu dalam menghilangkan grey area atau kawasan kelabu di bidang etika.beberapa ambiguitas moral yang sering merongrong kinerja perusahaan dapat terhindarkan.
3. kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya.di harapkan perusahaan tidak membatasi diri pada standar minimal ,melalui kode etiknya ini ia dapat menyatakan bagaimana ia dapat memahami tanggung jawab sosial.
4. kode etik menyediakan bagi perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya kemungkinan untuk mengatur dirinya sendiri . dengan demikian negara tidak perlu campur tangan

faktor-faktor untuk menjamin kode etik adalah:
1. kode etik sebaiknya dirumuskan berdasarkan masukan dari semua karyawan sehingga mencerminkan kesepakatan semua pihak didalamnya
2. harus dipertimbangkan dengan teliti bidang –bidang apa dan topik-topik mana sebaiknya tercakup oleh kode etik perusahaan.
3. kode etik perusahaan sewaktu-waktu harus direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan intern maupun ekstern
4. kode etik perusahaan ditegakkan secara konsekuen dengan menerapkan sanksi

tugas uas etika bisnis

The Ethics of Tax Evasion: A Survey of International BusinessAcademics

Robert W. McGee

Florida International University (FIU) – School of Accounting

February 12, 2006

Abstract:
In 1944, Martin Crowe, a Catholic priest, wrote a doctoral dissertation titled The Moral Obligation of Paying Just Taxes. His dissertation summarized and analyzed 500 years of theological and philosophical debate on this topic, much of which took place in Latin. Since Crowe’s dissertation, not much has been written on the topic of tax evasion from an ethical perspective, with a few exceptions. In 1998 and 1999, a few articles were published on the ethics of tax evasion in the Journal of Accounting,Ethics & Public Policy. An edited book on this topic was published in 1998.

The present paper summarizes, updates and expands on Crowe’s work. Recent literature is reviewed and the issues discussed in the last 500 years of theological and philosophical debate are incorporated into an 18-statement survey, which was distributed to members of the Academy of International Business (AIB), the International Management Development Association (IMDA) and the International Academy of Business Disciplines (IABD). These three groups were chosen to be the sample population because members of these groups are knowledgeable about international business practices and they come from a wide variety of backgrounds. They are more cosmopolitan in outlook than the average U.S. business school professor. A large percentage of the membership of these groups have lived in more than one country and many of them were born in a country other than the United States, which reduces the U.S. bias that would result if the sample population consisted of a random sample of American business school professors. A fair percentage of the membership of these organizations presently lives outside the United States.

Three basic views on the ethics of tax evasion have emerged over the centuries. The statements in the survey instrument incorporate all three views, which give respondents an opportunity to express their opinion regardless of which of the three positions they come closest to. Most statements begin with the phrase Tax evasion is not unethical if . . . , which allows the respondents to either agree or disagree with the statement. Each question is graded on a 7-point Likert scale. The responses to each question were tallied and ranked to determine under which circumstances tax evasion might be considered most or least ethical.

resume

Etika Pengelakan Pajak:
Sebuah Survei BusinessAcademics Internasional

Robert W. McGee

International University (FIU) – Sekolah Akuntansi

12 Februari 2006

Abstrak:
Pada tahun 1944, Martin Crowe, seorang imam Katolik, menulis disertasi doktor berjudul Kewajiban Moral Hanya Membayar Pajak. Disertasinya diringkas dan dianalisis 500 tahun perdebatan teologis dan filosofis tentang topik ini, banyak yang terjadi dalam bahasa Latin.Karena disertasi Crowe, tidak banyak yang telah ditulis pada topik penggelapan pajak dari perspektif etika, dengan beberapa pengecualian. Pada tahun 1998 dan 1999, beberapa artikel diterbitkan pada etika penggelapan pajak dalam Journal of Akuntansi, Etika & Kebijakan Publik.Sebuah buku diedit pada topik ini diterbitkan pada tahun 1998.
Ketiga kelompok dipilih menjadi sampel populasi seperti Akademi Bisnis Internasional (AIB), International Manajemen Development Association (IMDA)dan Akademi Internasional Disiplin Bisnis (IABD). karena anggota kelompok ini pengetahuan tentang praktek bisnis internasional dan mereka datang dari berbagai latar belakang. Mereka lebih kosmopolitan dalam pandangan dari profesor sekolah bisnis rata-rata US. Sebagian besar dari keanggotaan kelompok ini tinggal di lebih dari satu negara dan banyak dari mereka yang lahir di negara lain selain Amerika Serikat, yang mengurangi bias AS yang akan terjadi jika populasi sampel terdiri dari sampel acak dari profesor sekolah bisnis amerika. Sebuah persentase yang wajar dari keanggotaan organisasi-organisasi saat ini tinggal di luar Amerika Serikat.

Tiga pandangan dasar mengenai etika penggelapan pajak telah muncul selama berabad-abad.Pernyataan dalam instrumen survei menggabungkan semua tiga pandangan, responden yang memberikan kesempatan untuk mengekspresikan pendapat mereka terlepas dari yang mana dari tiga posisi mereka datang. Pernyataan di mulai dengan penggelapan pajak yang tidak etis pada frase jika. . . , Yang memungkinkan responden untuk baik setuju atau tidak setuju dengan pernyataan itu. Setiap pertanyaan dinilai pada skala Likert 7-titik. Tanggapan untuk setiap pertanyaan yang dihitung dan peringkat untuk menentukan di mana situasi penghindaran pajak mungkin dianggap sebagian besar tidak etis

kesimpulan
bahwa etika penggelapan pajak di amerika ada yang berpendapat pro atau setuju dan tidak setuju sehingga g penghindaran atau penggelapan pajak di negara tersebut terdapat beberapa versi pendapat jika dipandang dari sudut etika ,penggelapan pajak dikategorikan tidak etis jika diikuti dengan syarat-syarat tertentu

Sumber :
www.ssrn.com.

Welcome to Web Blog Mahasiswa Universitas Narotama Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!